Orang Baik Selalu Menang, Benarkah?

Orang baik selalu menang

Kata-kata yang sering terdengar di sinetron-sinetron. Ini juga ditunjukkan dengan alur cerita dari sinetron yang terkesan semakin membuat kita yakin bahwa kemenangan pasti dimenangkan orang baik dan kekalahan pasti didapatkan oleh orang jahat. Padahal dalam kenyataannya tidak seperti itu.

Dalam dunia nyata, orang baik tidak selalu menang. Alasannya cukup simpel, seperti berikut ini.

Bukan Orang Baik, Tapi Merasa Dirinya Baik

Semua orang pada dasarnya baik, bahkan singa juga baik. Tapi sifat baik ini hanya ditunjukkan kepada anaknya atau keluarganya, dan mungkin hanya tetangganya. Semisal, ada orang baik yang selalu berbagi dengan tetangganya, namun ternyata dia sendiri sering bertengkar dengan keluarga. Respon tetangganya pasti "padahal beliau baik, tapi ternyata". Hal ini juga berlaku pada kasus-kasus serupa dimana kita hanya melihat seseorang dari perbuatannya kepada kita, bukan melihat perbuatannya pada orang lain.

Kita menyebut orang yang menguntungkan bagi kita dengan sebutan "baik", dan menyebut orang yang merugikan bagi kita sebagai "jahat".

Lawan Kita Ternyata Lebih Baik

Sebaik apapun Anda, sepintar apapun Anda, dan sesempurna apapun Anda, pasti ada yang lebih baik. Sama-sama mencalon sebagai presiden, dan kita sudah melakukan berbagai kampanye sabaik mungkin. Namun kampanye lawan lebih efektif dan lebih banyak menarik perhatian masyarakat. Saat pemilihan, suara yang mendukung kita lebih sedikit dan kita kalah. Wajar jika kalah, bukan berarti kita jahat. Tapi karena lawan yang lebih baik.

Tidak Ada Hubungannya Baik/Jahat Dengan Persaingan Yang Dihadapi

Saat bersaingan memperebutkan hati pasangan, mungkin Anda berbuat sebaik dan semaksimal mungkin. Namun entah kenapa, meski Anda sudah baik, namun tetap saja orang yang Anda suka lebih memilih orang lain sebagai pasangannya. Hal ini terjadi karena Anda salah menilai diri Anda sendiri. Baik atau jahatnya Anda tidak berpengaruh, karena menurut orang yang Anda suka mungkin ketampanan, kekayaan dan faktor lainnya lebih diutamakan.

Kembali ke alasan pertama, saingan Anda yang mungkin menurut Anda tidak baik, ternyata baik bagi orang yang Anda suka. Ingat, semua orang itu baik bagi orang yang disayanginya.

Baik Itu Apa?

Menjadikan baik/jahat menjadi tolak ukur dari kemenangan saja sudah merupakan kesalahan fatal. Tidak ada hubungannya antara kemenangan dan kebaikan. Presiden/pemimpin tidak perlu baik (?), tapi calon presiden/pemimpin harus berbuat baik agar mendapatkan suara sebanyak mungkin, dan karena mendapatkan suara terbanyak, presiden tersebut terlihat baik. Jadi, sebenarnya yang menilai baik/jahatnya kita adalah orang lain, dan orang lain akan menganggap kita sebagai orang baik jika kita menguntungkan bagi orang tersebut (terlepas dari tujuan kita yang sebenarnya).

Makannya, kita bisa pura-pura demi mencapai tujuan kita. Tidak ada orang yang tahu seperti apa Anda, yang orang lain tahu itu sikap, perilaku, dan ekspresi yang Anda tunjukkan ke orang lain.

Tidak Ada Orang Baik Sejati

Mungkin di suatu negara asing, Anda bertemu dengan orang Indonesia. Lalu entah kenapa orang tersebut ramah kepada Anda. Apakah ini karena dia orang baik sejati? Tidak, secara naluri kita akan berbuat baik dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Tentu berbuat baik kepada Anda memiliki alasan yang lebih jelas, yaitu sebagai sesama orang indonesia.

Kita berbuat baik kepada orang lain, pasti ada alasannya, alasan yang membuat kita harus lebih baik kepada orang tersebut dibandingkan dengan perilaku baik kita terhadap orang lain.

Misal, seorang ayah yang lebih baik dengan anaknya dibandingkan dengan keponakannya. Alasannya, ya karena dia memiliki hubungan ayah-anak.

Insting

Sebenarnya alasan kita berbuat baik terhadap orang lain juga ada dasar evolusionernya. Insting ini secara tidak langsung maupun langsung diatur oleh gen yang membuat kita sebagai hewan sosial sangat diuntungkan. Perilaku ini disebut sebagai altruisme. Perilaku yang membuat kita membantu kelangsungan hidup orang lain yang berbagi gen dengan kita.

Salah satu hewan yang benar-benar "baik" terhadap kerabatnya adalah lebah dan beberapa serangga lainnya. Hewan-hewan ini termasuk sebagai hewan eusosial (sosial sejati).

Kesimpulan

Raihlah kemenangan dengan apa yang dibutuhkan untuk menang.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »