Evolusi Berlaku Bagi Semua Makhluk Hidup

Evolusi Berlaku Bagi Semua Makhluk Hidup

Kalau kita melihat reaksi orang awam tentang teori evolusi, pasti hal pertama yang mereka pikirkan tentang teori evolusi adalah bahwa teori evolusi merupakan teori yang menyatakan bahwa manusia adalah keturunan monyet. Anda bisa melihat sendiri berbagai reaksi orang awam tentang evolusi di facebook, forum online, blog atau situs-situs lainnya.

Baca Juga: Benarkah Manusia Berevolusi Dari Monyet?

Ada orang awam yang menanggapi secara bijak, ada orang awam yang merasa jijik karena disamakan dengan hewan, dan ada orang awam yang bahkan membantah teori evolusi dengan berbagai argumen. Lebih jauh lagi, beberapa orang bahkan menulis sebuah artikel tentang "Bukti Manusia Bukan Keturunan Monyet" yang bertujuan untuk menolak mentah-mentah bahwa manusia adalah keturunan monyet.

Tapi apakah benar bahwa manusia adalah keturunan monyet? Tidak, monyet bukan moyang manusia, begitu juga sebaliknya. Miskonsepsi ini merupakan miskonsepsi yang paling terkenal, dan sering diulang-ulang dalam perdebatan antara orang yang pro-evolusi dan yang kontra-evolusi.

Terlepas dari evolusi manusia yang seringkali diperdebatkan (di kalangan orang awam). Sebenarnya, jika kita ingin mencari bukti evolusi, maka semua spesies yang kita ketahui di bumi ini bisa dijadikan bukti evolusi. Mulai dari bakteri, arkaea, dan eukarya, semuanya bisa dijadikan bukti evolusi. Bahkan virus sekalipun juga mengalami proses evolusi. Sederhananya, selama populasi makhluk hidup tersebut mampu bereproduksi, bermutasi, dan mengalami tekanan selektif, maka populasi makhluk hidup tersebut mengalami evolusi.

Baca Juga: Evolusi, Apanya Yang Berevolusi?

Seperti judul artikel ini "Evolusi Berlaku Bagi Semua Makhluk Hidup". Semua makhluk hidup mengalami evolusi, dan manusia adalah salah satu dari produk evolusi. Ayam, anjing, kucing, singa, bebek dan monyet, semuanya mengalami evolusi. Tapi kenapa hewan-hewan ini (monyet) tidak berevolusi menjadi manusia dan masih tetap ada di hutan? Karena manusia bukan tujuan akhir dari proses evolusi. Selama makhluk hidup tersebut masih mampu bereproduksi, maka makhluk hidup tersebut masih mengalami evolusi.

Semua makhluk hidup memiliki sejarah evolusinya masing-masing. Contohnya kelompok cetacea (paus dan lumba-lumba) yang merupakan keturunan dari mamalia darat (hidup sekitar jutaan tahun yang lalu). Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya rambut, paru-paru, kelenjar susu, plasenta, dan tungkai belakang (organ vestigial) pada paus dan lumba-lumba. Saat ini, subordo cetacea mencakup sekitar 80 spesies, dan dari 80 spesies tersebut, semuanya mengalami tekanan selektif yang berbeda-beda. Ada kelompok spesies cetacea yang mengembangkan balen untuk mencari makan berupa krill, dan ada juga kelompok spesies cetacea yang mengembangkan gigi tajam untuk mencari mangsa berupa anjing laut, ikan, dan paus lainnya.

Semua spesies mengembangkan berbagai kemampuan unik, yang mereka gunakan untuk mengatasi lingkungan yang mereka tinggali (adaptasi). Tapi ada satu hal yang menarik, meski tiap spesies memiliki keunikan tersendiri, namun semuanya dapat diklasifikasikan kedalam sistem hirarkis. Semisal, 80 spesies yang berada di subordo cetacea, semuanya memang memiliki keunikan tersendiri, tapi ke-80 spesies tersebut juga memiliki karakteristik umum yang dimiliki oleh semua anggota subordo cetacea.

Kenapa hewan cetacea yang hidup di laut tapi menggunakan paru-paru untuk bernapas? Kenapa hewan cetacea memiliki kelenjar susu, memiliki rambut, dan memiliki beberapa karakteristik dari hewan mamalia? Jika paus adalah hewan mamalia, kenapa paus memiliki bentuk tubuh yang mirip ikan?

Disinilah teori evolusi berperan (sebagai penjelasan). Kita berusaha mencari penjelasan-penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menggunakan bukti-bukti yang sudah kita ketahui. Dewasa ini, fakta bahwa kehidupan mengalami evolusi itu sama seperti fakta bahwa bumi mengelilingi matahari.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »